KEMISKINAN DI ACEH
Nanggroe Aceh Darussalam merupakan suatu proinsi yang kaya akan sumber daya alam. Akan tetapi berlimpahnya sumber daya alam di Aceh tidak menyebabkan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau tingkat kemiskinan yang rendah. Menurut data yang saya ambil dari acehproverty2008, yang di bahas oleh BAPPEDA dan World Bank ternyata Pada kenyataannya, kekayaan sumber daya terkait erat dengan konflik yang telah merusak Aceh selama lebih dari 30 tahun dan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi, pemerintahan yang lemah, rendahnya tingkat pelayanan umum, serta salah satu tingkat kemiskinan yang tertinggi di Indonesia. Sumber daya alam tidak seharusnya menimbulkan konfl ik. Penetapan kebijakan yang baik dapat membantu mengurangi kemungkinan timbulnya konfl ik akibat sumber daya, seperti investasi di bidang pendidikan dan kesehatan, diversifi kasi ekonomi dari ketergantungan yang berlebihan terhadap sumber daya alam, peningkatan transparansi distribusi dan penggunaan pendapatan yang diperoleh dari sumber daya alam, dan jaminan supremasi hukum.
Kemiskinan ini juga meningkat akibat dari bencana Tsunami dari 28,4%pada tahun 2004, menjadi 32,6% pada tahun 2005. Kemudian pada tahun 2006 angka kemiskinan di Aceh menurun hingga mencapai 26,5% hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kemiskinan yang berkaitan dengan tsunami tidak berlangsung lama dan aktivitas rekonstruksi kemungkinan besar memfasilitasi penurunan tersebut. Pada tahun 2006, tingkat kemiskinan di Aceh menurun, sementara tingkat kemiskinan di wilayah-wilayah lain meningkat. Walaupun demikian, kemiskinan di Aceh tetap jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Akan tetapi pada tahun 2011 angka kemiskinan terus menurun hingga 19,57 %. Dari data yang sama, yaitu yang di bahas oleh BAPPEDA dan World Bank, serta BPS Kemiskinan di aceh sebagian besar merupakan fenomena pedesaan, dengan lebih dari 30% rumah tangga di pedesaan hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini dibandingkan dengan tingkat rumah tangga miskin di wilayah perkotaan yang kurang dari 15 persen. Karakteristik lainnya yang terkait dengan tingginya tingkat kemiskinan yaitu ukuran rumah tangga yang lebih besar, tingkat pendidikan yang lebih rendah, rumah tangga yang dikepalai perempuan, dan rumah tangga dengan mata pencaharian di bidang pertanian. Hubungan antara karakteristik ini dengan kemiskinan masih tetap relatif stabil setelah masa tsunami yang menunjukkan bahwa faktor pokok penentu kemiskinan tidak berubah meskipun terjadi perubahan yang cepat dalam aspek politik dan sosial ekonomi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar