Minggu, 30 Oktober 2011

tugas IMF tentang kemiskinan di Aceh

KEMISKINAN DI ACEH

                Nanggroe Aceh Darussalam merupakan suatu proinsi yang kaya akan sumber daya alam. Akan tetapi berlimpahnya sumber daya alam di Aceh tidak menyebabkan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau tingkat kemiskinan yang rendah. Menurut data yang saya ambil dari acehproverty2008, yang di bahas oleh BAPPEDA dan World Bank ternyata Pada kenyataannya, kekayaan sumber daya terkait erat dengan konflik yang telah merusak Aceh selama lebih dari 30 tahun dan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi, pemerintahan yang lemah, rendahnya tingkat pelayanan umum, serta salah satu tingkat kemiskinan yang tertinggi di Indonesia. Sumber daya alam tidak seharusnya menimbulkan konfl ik. Penetapan kebijakan yang baik dapat membantu mengurangi kemungkinan timbulnya konfl ik akibat sumber daya, seperti investasi di bidang pendidikan dan kesehatan, diversifi kasi ekonomi dari ketergantungan yang berlebihan terhadap sumber daya alam, peningkatan transparansi distribusi dan penggunaan pendapatan yang diperoleh dari sumber daya alam, dan jaminan supremasi hukum.

                Kemiskinan ini juga meningkat akibat dari bencana Tsunami dari 28,4%pada tahun 2004, menjadi 32,6% pada tahun 2005. Kemudian pada tahun 2006 angka kemiskinan di Aceh menurun hingga mencapai 26,5% hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kemiskinan yang berkaitan dengan tsunami tidak berlangsung lama dan aktivitas rekonstruksi kemungkinan besar memfasilitasi penurunan tersebut. Pada tahun 2006, tingkat kemiskinan di Aceh menurun, sementara tingkat kemiskinan di wilayah-wilayah lain meningkat. Walaupun demikian, kemiskinan di Aceh tetap jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Akan tetapi pada tahun 2011 angka kemiskinan terus menurun hingga 19,57 %.

                Dari data yang sama, yaitu yang di bahas oleh BAPPEDA dan World Bank, serta BPS Kemiskinan di aceh sebagian besar merupakan fenomena pedesaan, dengan lebih dari 30% rumah tangga di pedesaan hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini dibandingkan dengan tingkat rumah tangga miskin di wilayah perkotaan yang kurang dari 15 persen. Karakteristik lainnya yang terkait dengan tingginya tingkat kemiskinan yaitu ukuran rumah tangga yang lebih besar, tingkat pendidikan yang lebih rendah, rumah tangga yang dikepalai perempuan, dan rumah tangga dengan mata pencaharian di bidang pertanian. Hubungan antara karakteristik ini dengan kemiskinan masih tetap relatif stabil setelah masa tsunami yang menunjukkan bahwa faktor pokok penentu kemiskinan tidak berubah meskipun terjadi perubahan yang cepat dalam aspek politik dan sosial ekonomi.

                

Minggu, 16 Oktober 2011

tugas review bab 1

Pengertian Microfinance


1)      Pengertian serta tujuan dari microfinance
Microfinance dapat berarti pembiayaan untuk usaha mikro. Serta tujuan dari microfinance ini sendiri tidak jauh berbeda dari pengertiannya, yaitu membantu memberikan bantuan bagi rakyat yang berpenghasialan rendah, yang biasanya terdapat pada daerah atau pada suatu Negara yang sedang berkembang. Dimana mereka di berikan pinjaman untuk dapat berusaha, yang pada akhirnya mereka mendapati penghasilan yang layak, dan hidup mereka nantinya menjadi lebih sejahtera.

2)      Pengertian microcredit
Yaitu program untuk memberikan kredit berjumlah kecil untuk membiayai atau membantu usaha mereka agar menghasilkan pendapatan yang sesuai untuk keluarganya. Dengan begitu microcredit telah berhasil menjadi alat yang efektif untuk melawan kemiskinan.
  •     Yang berhak mendapatkan bantuan dari microfinance

Dalam microfinance, tidak semua orang miskin berhak diberikan bantuan. Dalam microfinance, yang berhak mendapatkan bantuan ialah orang miskin yang dalam arti memiliki pendapatan yang rendah atau aktif dalam ekonomi (bekerja; mampu menghasilkan). Mereka juga harus memiliki kemampuan untuk berwirausaha. Dengan kata lain microfinance hanya membantu orang-orang yang mau berusaha untuk memperbaiki hidupnya.

3)      Perbedaan antara rentenir dengan microfinance
Banyak orang beranggapan bahwa rentenir dan microfinance itu sama, padahal perbedaannya jauh sekali. Rentenir adalah merupakan pesaing langsung dari LKM. Memang untuk mendapatkan bantuan dari rentenir cukup mudah, namun beban yang di berikan oleh rentenir kepada si peminjam sungguh sangat berat. Contohnya bunga yang di berikan oleh rentenir kepada si peminjam sangat tinggi, jelas sangat berbeda dari LKM. Di dalam microfinance, mereka memberikan pinjaman kepada peminjam, namun si peminjam juga nantinya harus mengembalikan pinjaman tersebut, serta seberapa ikhlas untuk memberikan hasil pendapatan mereka, namun terkadang juga dalam microfinance juga di tentukan seberapa besar yang si peminjam harus mengembalikan modal serta hasil kepada lembaga yang memberikan pinjaman tanpa memberatkan si peminjam. Hasil tersebut juga nantinya akan diputar lagi untuk membantu orang yang memerlukan.

Kamis, 13 Oktober 2011

Usaha Penjualan Ayam

USAHA PENJUALAN AYAM


                Ayam bukanlah binatang yang asing bagi kehidupan kita. Berbagai menu olahan ayam banyak kita jumpai baik di restoran, warung makan, bahkan di meja makan rumah kita pun sering menu olahan ayam kita jumpai.
                Jenis ayam pun ada banyak, dari mulai pedaging, petelur, hingga ayam sabung pun ada. Nah dalam kasus kali ini saya telah melakukan usaha ternak ayam petarung, atau ayam sabung. Dikarenakan orang tua saya memiliki beberapa ekor ayam jenis tersebut, maka saya mencoba meminjam modal sepasang ekor ayam jenis tersebut yang berumur sekitar 3 bulan  kepadanya.
·         Berikut penjelasan atau rincian usaha yang saya jalani:
  •  Modal yang diberikan oleh “banker”  sebanyak Rp. 10.000,-. Pada tahap awal saya tidak menggunakan modal tersebut.
  • Kemudian sepasang ayam yang saya pinjam dari orang tua saya, saya tawarkan kepada tetangga yang tertarik kepada ayam tersebut.
  • Saya mematok harga:

i)        Ayam Jantan : Rp. 70.000,-
ii)       Ayam betina : Rp. 50.000,-
dari hasil penjualan saya mendapatkan keuntungan di tambah modal awal:

Ø  Rp. 120.000 + Rp. 10.000 = Rp. 130.000,-
  •            Dari keuntungan tersebut saya gunakan untuk:

Ø  Beli anak ayam     : 5 ekor @ Rp. 9.000,- = Rp. 45.000,-
Ø  Beli pakan ayam  : 1 kg     @ Rp. 7.000,- = Rp. 7.000,-
Ø  Jadi total              : Rp. 45.000 + Rp. 7.000 = Rp. 52.000,-
f)       Jadi keuntungan bersih menjadi :
Ø  Rp. 130.000 – Rp. 52.000 =  Rp. 78.000,-
g)      Anak ayam tersebut saya kembalikan kepada orang tua saya sebagai hasil pinjaman sepasang ayam tadi, yang nantinya akan saya gunakan sebagai modal untuk menjalankan bisnis ini lagi.