Jumat, 06 Januari 2012

Peringkat Kemiskinan Aceh Untuk Indonesia

KEMISKINAN DI ACEH PERINGKAT 7  NASIONAL
Jumlah penduduk miskin di Aceh saat ini mencapai 861.850 jiwa atau 20,98 persen dari total jumlah penduduk 4.486.570 jiwa. Angka tersebut turun sebesar 0,82 persen bila dibandingkan tahun 2009 lalu yang berjumlah 892.860 jiwa. Data tersebut disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Syech Suhaimi, Senin (27/9), usai apel peringatan Hari Statistik Nasional yang jatuh pada 26 September 2010 kemarin. “Hasil sensus BPS, jumlah penduduk miskin Aceh mencapai 861.850 jiwa atau sebanyak 20,98 persen. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan rata-rata nasional sebesar 13,33 persen,” kata Syech.

Dia memperkirakan, penurunan tersebut terjadi karena berubahnya pola konsumsi masyarakat dan bangkitnya perekonomian di sektor pertanian. “Bisa juga disebabkan oleh bantuan pemberdayaan kepada masyarakat miskin yang semakin banyak dikucurkan,” ujar Syech. BPS belum mengumumkan jumlah penduduk miskin berdasarkan wilayah. Namun bila melihat hasil sensus tahun lalu, jumlah penduduk miskin terbesar ternyata ada di Kabupaten Pidie Jaya yang mencapai 27,97 persen. Kemudian diikuti, Aceh Barat (27,09%), Bener Meriah (26,58%), Subulussalam (26,80%), dan Nagan Raya (26,22%). Sedang untuk penduduk miskin terendah terdapat di Banda Aceh (8,64%), disusul Lhokseumawe (15,08%), dan Langsa (16,20%). “Data ini merupakan hasil susenas yang diambil pada 2009, sedang data untuk 2010 akan kami keluarkan dalam waktu dekat,” ujar Syech.

Meskipun angka kemiskinan di Aceh menurun, namun Aceh ternyata masih termasuk dalam daerah dengan jumlah penduduk miskin tebanyak, yakni menduduki peringkat 7 nasional. Peringkat pertama Papua dengan persentase penduduk miskin mencapai 36,80 persen, disusul Papua Barat 34,88 persen, Maluku 27,74 persen, Gorontalo 23,19 persen, NTT 23,03 persen, NTB 21,55 persen, dan Aceh. “Jika diperhatikan angka kemiskinan yang tertinggi malah terjadi di wilayah dengan kekayaan sumber alam melimpah, seperti Aceh, Papua dan Papua Barat. Ini semua bergantung pada pemerintah pusat dan daerah bagaimana memaksimalkan potensi daerah-daerah dengan kekayaan alam melimpah agar bisa meminimalkan atau menghapus angka penduduk miskin di wilayahnya,” papar Syech.

tugas review dari smeIndonesia.com

TUGAS REVIEW
(15 Mitra Usaha Dipinjami Modal Pelindo Pakning Rp 750 Juta)

Menurut saya, dengan memberikan bantuan dana seperti yang dilakukan oleh PT. Pelabuhan Indonesia cabang Pakning sangat bagus, dengan bantuan dana seperti itu lebih baik dari pada memberikan bantuan berupa barang. Karena bantuan melalui uang akan lebih mudah digunakan untuk membeli apa yang dibutuhkan untuk usaha. Sedang kan bila memberi bantuan melalui barang, kebanyakan masyarakat kurang bisa untuk menggunakannya dengan baik.
Akan tetapi, bantuan melalui Dana / uang akan menjadi percuma bila dana tersebut tidak digunakan untuk kegiatan usaha. Saya sangat setuju dengan harapan pak Coroga selaku Manager PT. Pelabuhan Indonesia cabang Pakning, bahwa “kucuran dana mitra usaha binaan di 2011 sudah mencapai Rp 1,318 miliar. Pinjaman dana kemitraan hendaknya digunakan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan usaha”.
Saya berharap akan lebih banyak lagi perusahaan-perusahaan besar yang dapat memberikan bantuan seperti PT. Pelabuhan Indonesia cabang Pakning, dan bantuan dana tersebut dapat diberikan kepada yang layak mendapatkan, jangan sampai dana tersebut hilang di tengah jalan. Agar para pengusaha-pengusaha kecil serta koperasi yang ada di Indonesia dapat berjalan sebagaimana semestinya, serta koperasi di Indonesia tidak hidup-mati lagi.

tugas suka duka menjadi A.O


SUKA DUKA MENJADI ACOUNT OFFICER

Sungguh banyak suka duka dalam menjalani profesi sebagai Acount Officer, akan tetapi saya pribadi merasa cukup banyak dukanya. Dukanya yaitu ketika menjelaskan kepada calon nasabah tentang Baitul Qiradth, tentang tabungan, serta berbagai macam yang menyangkut hal tersebut, namun pada akhir pembicaraan calon nasabah tersebut tidak mau untuk menjadi nasabah. Terkadang timbul rasa penat untuk menjalaninya. Akan tetapi harus tetap di jalani karena telah menjadi tanggung jawab menurut saya.
Sukanya terjadi ketika kita berhasil mendapatkan nasabah, seolah-olah kita mendapatkan sesuatu yang paling istimewa dalam hidup. Ketika menjalani tugas itu terkadang muncul ide-ide konyol yang sering saya dan teman saya pikirkan, sehingga rasa penat yang kami alami berkurang.  
Awalnya terpikirkan oleh saya bahwa tugas ini berat, akan tetapi setelah sekian lama menjalani hal itu seakan ringan, oleh sebab itu saya berpikir bahwa hal berat itu akan menjadi ringan bila dikerjakan bersama, bahkan saya bersyukur, dan berterima kasih kepada bapak “Iskandarsyah Madjid” karena beliau yang memberikan tugas tersebut, sehingga saya mendapat pengalaman yang tak terlupakan.
Terima kasih bapak “Iskandarsyah Madjid”…….

Tugas tentang bapak Masril Koto

Masril Koto adalah pendobrak kebekuan fungsi intermediasi industri perbankan di bidang pertanian. Bersama para rekannya, petani yang tak tamat sekolah dasar itu mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 2007.

LKMA Prima Tani di Nagari Koto Tinggi itu menjadi cikal bakal program pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP) nasional. Kini, lebih dari 300 unit LKMA telah berdiri di seantero Sumbar atas dorongannya.

Setiap hari, Masril berkeliling ke beberapa wilayah Sumbar dengan sepeda motor keluaran tahun 1997, yang disebutnya suka ”agak berulah sedikit” hingga kadang masuk-keluar bengkel.

Akibat sering berkeliling, Masril relatif sulit ”ditangkap”.  Selama singgah dari satu tempat ke tempat lain itu, atas undangan kelompok tani, Masril selalu memotivasi agar LKMA didirikan sebagai solusi permodalan petani. Maka, dalam ranselnya tersimpan aneka perlengkapan penunjang aktivitas, seperti spidol, beragam contoh dokumen pendukung pendirian dan operasional LKMA, serta laptop.

”Laptop ini hadiah dari (ekonom) Faisal Basri, waktu kami undang ke Agam melihat LKMA,” kata Masril, yang mengaku bermodal keberanian untuk berhubungan dengan banyak orang. Segudang pengalaman dan orang dia temui dalam perjalanan yang menghabiskan biaya Rp 500.000 per bulan itu.

Perjalanan tersebut juga membuat dia jarang berkumpul dengan keluarga. Dalam sebulan hanya dua hari ia bersama istri dan anaknya di Nagari Tabek Panjang, Baso, Agam. Selebihnya, mereka berkomunikasi lewat telepon.

Proses panjang perjuangan Masril mendirikan LKMA diawali pada 2003. Sebagai petani, ia menanam padi serta membudidayakan jagung dan ubi jalar. Waktu itu ia ingin beralih menjadi petambak lele. Sampai suatu hari, ia bertemu seniman-petani Rumzi Sutan yang mendendangkannya lagu tentang cita-cita kemandirian petani.

Sejak itulah Masril bertekad memajukan petani. Ia lalu mengikuti sekolah lapangan (SL) petani dari Dinas Pertanian Sumbar di Nagari Tabek Panjang, Baso, Agam. Di sekolah lapangan itu, ia tersadar bahwa persoalan utama petani adalah permodalan. Hal ini tak bisa dipecahkan industri perbankan. Maka, tercetus ide untuk membuat bank petani, demi memenuhi kebutuhan mereka.

Di benak para petani pun relatif alergi terhadap pendirian koperasi. Jadilah ide Masril tak bersambut. ”Berdasarkan rapat evaluasi dan pengalaman kami selama ini, koperasi hanya menguntungkan para ketuanya,” ujar anak pertama dari delapan bersaudara ini.

Seusai mengikuti sekolah lapangan, ia mengumpulkan sejumlah rekan dan membentuk tim beranggotakan lima orang. Tugasnya, mencari tahu seluk-beluk pendirian bank petani. Tim itu dibekali dana pencarian informasi Rp 600.000. Mereka menemui para mantan pegawai bank, dinas terkait, dan mendatangi bank-bank umum.

”Saya ke (Kota) Bukittinggi mendatangi bank yang ada. Saya bilang ingin membuat bank, bisakah diberi pelatihan,” cerita Masril, yang dijawab para bankir itu, ”tak mungkin”.

Tahun 2006 mereka ke Padang guna mengikuti diskusi dari Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA). Saat itu sisa dana pencarian informasi Rp 150.000, masih dipotong uang bukti pelanggaran (tilang) lalu lintas Rp 40.000 gara-gara salah membaca rambu lalu lintas.

Dalam diskusi yang dihadiri pejabat Bank Indonesia itu, Masril diberi tahu bahwa dana perbankan cukup banyak. Dana itu bisa dimanfaatkan untuk modal kelompok tani.

”Saya bilang, kami ingin modal itu untuk membuat bank. Saya tanya caranya,” kata Masril, yang diyakinkan bisa mendirikan LKMA. Sejak itu dia rajin membaca buah pikiran Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Prof Mubyarto.

Modal mendirikan LKMA diperoleh lewat penjualan saham Rp 100.000 per lembar kepada ratusan petani. Setelah modal diperoleh, muncul masalah pembukuan. Mereka lalu mengikuti pelatihan konsultan dari Yogyakarta.

”Waktu itu ada LKMA di Kabupaten Pasaman yang sudah berdiri. Sewaktu kami mau belajar, ternyata harus membayar. Jadilah kami belajar langsung dari ahlinya,” kata Masril yang tak memungut uang jasa setiap kali berbagi pengalaman tentang LKMA.

Beragam produk tabungan atau pinjaman berbasis kebutuhan langsung petani secara spesifik ditelurkan LKMA, seperti tabungan ibu hamil, tabungan pajak motor untuk pengojek, dan tabungan pendidikan anak.

Tahun 2007, Menteri Pertanian Anton Apriyantono meresmikan LKMA Prima Tani. Ia tercenung mendengar cerita Masril. ”Kalau Pak Menteri bikin seperti yang saya lakukan, tentu hasilnya lebih cepat bagi petani,” ceritanya tentang pertemuan itu. Setelah itu, pemerintah meluncurkan program PUAP.

Perjuangan Masril bukan tanpa hambatan. Berbagai cibiran pun datang, juga dari keluarga. ”Kepada istri saya katakan, jika kita ikhlas mengerjakan sesuatu, Insya Allah ada balasannya,” kata Masril.

Hal itu terbukti. Tahun 2008 ia dikontrak perusahaan Jepang dengan gaji Rp 2,5 juta per bulan. Kini, ia menjadi konsultan perusahaan Belanda bergaji Rp 3,5 juta sebulan.

Masril bertahan memajukan petani sebab ia tak ingin mereka terus-menerus dieksploitasi, terutama saat menjelang pemilihan umum. Kini, ia menyiapkan pembentukan lembaga bernama Lumbung Pangan Rakyat. Targetnya, mengganti peran Bulog yang tak bertugas menurut fungsi yang diamanatkan.

”Lumbung Pangan Rakyat sudah saya uji coba, tetapi masih memerlukan penyempurnaan. Tunggu saja, petani sudah punya kelompok tani sebagai ’perusahaan’, LKMA sebagai ’bank’, dan Lumbung Pangan Rakyat sebagai ’Bulog’-nya,” kata Masril bersemangat.